Jalan Mangga Besar, Jakarta
Jalan Mangga Besar, Jakarta

Jalan Mangga Besar, Jakarta

Posted on

MANGGA BESAR JOURNALISM INSTITUTE – Bicara tentang Mangga Besar di Jakarta Barat adalah bicara tentang kawasan hiburan, yaitu hiburan untuk pria. Bukan hiburan untuk anak-anak seperti Ancol dan Taman Mini. Melainkan hiburan pria dewasa. Wa bil khusus “Pria Nakal Dewasa”.

Banyak wanita juga lalu lalang di sana, berbaju sexy dan menor, sebagai penghiburnya. Sedangkan laki laki yang datang umumnya perlente yang lagi haus kasih sayang dan bersantai. Buang-buang duit. Nyawer.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di sana bersemayam kegiatan “Ma Lima”: Madon, Mabuk / Madat, Main, Mangan, Maling. Sudah ada sejak 1950-an dan bertahan hingga kini. Ormas agama yang dikenal sangar anarkis – yang punya tagline “anti maksiat” itu boleh saja klaim pernah menurunkan Gus Dur dari kursi kepresidenan. Tapi tak sanggup “meratakan” Mangga Besar sebagai kawasan maksiat dan hiburan.

Jelas lah, perputaran duit di sana, sangat aduhaii….

Kata pepatah lama: “Kalau bisa dipetik buahnya, untuk apa ditebang pohonnya?”

Bagi reporter belia seperti saya – di era 1980-an khususnya – kawasan Mangga Besar bukan sekadar tempat hiburan – melainkan lokasi peliputan. Segala macam kejadian dan bahan berita, terjadi, beredar dan terkumpul di sana. Dan di sana pula saya mempraktikkan dan melatih ilmu jurnalistik saya.

Barang siapa ingin jadi wartawan mahir, sesungguhnya untuk praktiknya tak usah jauh jauh. Pelajari metodenya, tutorial akademiknya dan praktiklah di kawasan Mangga Besar dan sekitarnya.

Secara garis besar, seseorang bisa menjadi wartawan mahir, bila sudah bisa melewati penulisan di lima tahap / level berikut : (1) Hardnews atau berita aktual, (2) Soft News atau Features – berita ringan, berita kemanusiaan (3) Deept News atawa Deept Reporting alias laporan mendalam (4) Investigative Reporting – Laporan Penyelidikan, (5) Opini atawa Tajuk (6) dan “Narative Journalism” alias jurnalisme berkisah.

Mari kita bedah satu persatu mengapa semua level di atas bisa dipraktikkan dan “diselesaikan” di kawasan Mangga Besar. Bahkan para kaum cendekia – boleh percaya boleh tidak – bisa bikin thesis untuk gelar S-2 dan S3 dari ‘ngubek ngubek’ tempat ini.

SEPERTI reporter yang lain, sebagai pemula, di media tempat saya bekerja – saya diterjunkan di liputan bidang kriminal. Untuk itu, kemampuan yang diperlukan adalah mengumpulkan data dan fakta sebanyak banyaknya dan menyusunnya secara cepat dan sederhana; cukup 4–5 alinea, setengah atau tiga per empat folio ketik.

Dalam ilmu jurnalistik dikenal dengan rumus “5 W + 1 H” (What, Who, Where, When, Why + How : Apa, Siapa, di Mana, Kapan, Mengapa + Bagaimana). Maka fakta fakta seputar itu yang dikumpulkan.

Di kawasan Mangga Besar, wilayah Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat – pada awal 1980-an – tindak kriminalitas lumayan tinggi. Jadi tak usah kemana mana, hari hari reporter kriminal nongkrong saja dan “mungut” kejadian di situ: penjambretan, penodongan, pencurian, perkosaan, perjudian, penculikan, penganiayaan, pembunuhan terjadi tiap hari. Juga kebakaran, kecelakaan lalu lintas dan narkoba.

Bahan berita bisa memergoki langsung, bisa cek laporan ke polisi, konfirmasi ke saksi, pelaku, korban, jadilah. Sehari bisa terkumpul 3 – 4 berita.

Masa itu saya pegang ‘handy talkie’ – nguping lalulintas informasi dari polisi. Dan pakai motor, Honda GL-Pro. Lincah. Tidur tak pernah nyenyak, karena suara ‘Halong Timur’ (HT) terus mengeresek di meja dekat ranjang, musti “Solo Bandung” (Stand By) dan ‘Solo Garut’ (Siaga) , sewaktu waktu ada “Taruna” (berita) ‘Laka’ (Kecelakan) atau “Jaya 65” (kebakaran).

Waktu itu, masih bujangan, enak. Bebas ngayap, tak pulang pun tak ada yang ngomel. Semua bisa jadi ‘Pangkalan’. Bisa jadi ‘Komando’. Rasanya nggak ngejar ngejar “Rembang Pati” (RP = rupiah). Rezeki ada saja.

Saya ingat, waktu itu, saya sampai hapal pasalnya di KUHP: 285 ( Pemerkosaan), 303 (Perjudian), 363 (Pencurian), 365 (Perampokan), 338 (Pembunuhan), 340 (Pembunuhan Berencana).

Saya kenal baik polisinya, premannya, dan oknum-oknumnya yang “main” Mangga Besar. Berita yang didapat dari level “cucakrowo” (berita kecil) sampai berita halaman satu, yang tayang bersambung berhari hari.

Kalau ada yang kecopetan di sana, hubungi saya. Saya kenal pemainnya. Saya kenal Raja Copetnya.

Tapi itu dulu.

Kalau mau mabuk atau menikmati live musik atau joged, tinggal masuk saja ke salahsatu klub, pesan minum, nyawer menyanyi dan tanda tangan. Yang punya klub menyambut dengan senang hati, wartawan dapat diskon besar, bahkan kadang digratiskan. Tinggal tanda tangan saja.

Para MC di klub klub yang ada di Mangga Besar punya bahasa seragam. Kepada siapa yang datang dan dihapal namanya, langsung disambut dengan panggilan “mister” dan “kampeni” (maksudnya company). Misalnya “Mister Nelson en kampeni”, “Mister Syamsul en Kampeni” . “Mister Tete en Kampeni” – gud epening. Selamat bersantai – Bahasa Inggris dialek Mangga Besar. Dalam keadaan mabuk – atau mau mabuk – kami ketawa saja.

Kenangan yang tersisa selama ‘tugas’ dan ‘ngariung’ di sana adalah selalu ingat kapan masuknya, minumnya, tapi tak pernah ingat pulangnya. Tahu tahu saja sudah bangun dan sedang terkapar di hotel ‘P’ atau ‘M’ – tak jauh dari situ juga. Di antara kami, anak anak baru yang gampang ‘teler’ dan sesekali ‘nembak’ (muntah muntah) – setelah dicekoki para senior – ada saja yang baik hati membopong kami.

LEVEL KEDUA adalah ‘SoftNews’ alias ‘Features’. Kawasan Mangga Besar hidup 24 jam – yang mendapat berkah bukan cuma hostes, pramuria, anak-anak band, penyanyi, kasir, waiter, juragan miras, petugas kebersihan dan pengusaha tempat hiburan di sana. Melainkan juga tukang becak, tukang ojek sepeda, tukang parkir, pengamen dan pedagang makanan.

Di Mangga Besar dulu juga banyak atraksi, dan ada pedagang ular kobra, monyet, anjing, babi, dan segala macam. Saya wawancarai mereka semua.

Yang paling mengesankan tentu “Bubur Hostess”. Nama resminya ‘Bubur Olimo’, tapi karena banyak hostes ngumpul di sana, disebut nama itu – Bubur Hostess’. Tempat nongkrong orang orang malam, setelah diskotik, klub malam bubaran. Ada yang kelaparan, ada yang iseng, ada yang menunggu jemputan, semua ngumpul di “Bubur Hostess”. Ada banyak cerita asyik dan ‘syurr’ di situ.

Level Ketiga, ‘Deept Reporting’ alias laporan mendalam.

Di balik kemegahan ‘Mabes’ alias Mangga Besar ada berbagai kisah menakjubkan, mengesankan, memilukan, dan mengerikan. Untuk bisa meliputnya tidak sekadar wawancara dan mengamati, namun juga terlibat di dalamnya berhari hari. Hasilnya adalah laporan mendalam, dan tayang sebagai cerita berseri.

Kawan saya pernah ikut para perempuan penghibur pulang ke kampung halamannya, dan diakui si perempuan itu sebagai “suami”nya. Selama di kampung halaman perempuan itu – di Indramayu dan Jepara – dia dilayani sebagai suami; habis habisan. Luar dalam. Terjamin. Hasilnya laporan/ tulisan panjang.

Level ke empat – ‘Investigative Reporting’.

Di balik bisnis yang ditolelir Dinas Pariwisata DKI Jakarta, ada tindak kriminal yang juga terjadi dan cenderung didiamkan. Misalnya bisnis “jual beli perawan”, “mafia ABG”, transaksi seks anak di bawah umur, dan tentu saja narkoba, dengan segala jenisnya.

Untuk bisa mendalaminya, wartawan harus investigasi. Menyelidiki. Wartawan melepaskan identitasnya, dan bergaya sebagai cukong atau pemakai. Hasilnya, laporan panjang juga. Mendalam juga. Menggabungkan cerita, data dan fakta.

Yang membedakan “deept reporting” dan “investigative reporting” adalah “deept repoting” tetap dengan menyandang identitas wartawan, mengumpulkan informasi sebanyak banyaknya dan lama – sebagai laporan yang mendalam dan komprehensif. Sedangkan dalam reportase investigasi yang bersangkutan menyamar – juga mendalam dan lengkap – dengan resiko ditanggung sendiri.

Level ke lima tajuk atau opini. Tajuk Rencana mewakili kebijakan media, sedangkan opini mewakili pikiran penulis berdasarkan pengalamannya di dunia jurnalistik.

Level ke enam – ‘Journalisme Berkisah’ atau ‘Narative Journalism’ – yang sedang saya tulis ini. Para penulis tajuk belum tentu piawai menulis laporan betutur, jurnalisme berkisah – begitu juga sebaiknya. Saya sudah mencoba dua duanya.

Sebuah liputan dunia malam dari rekan ‘Sinar Harapan’ bertajuk “Menyusuri Remang Remang Jakarta” (1979) meraih Piala Adinegoro – Piala dan penghargan paling bergengsi untuk wartawan Indonesia. Penulisnya Yuyu AN Krisna. Buku itu kemudian jadi kisah film – di tahun1982 . Filmnya dibintangi Roy Marten dan Cathy Lengkong.

MOTINGGO BUSYE, novelis, dan sastrawan yang populer di era 1970-an dan 1980an, redaktur majalah wanita ‘Kartini’, pengasuh rubrik “Oh Mama, Oh Papa”, pernah menuturkan kepada saya bagaimana proses kreatifnya menulis novel-novelnya yang laris, saat kami nongkrong di Furama Club, di Jl. Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Lingkungan Mabes (Mangga Besar) juga.

“Kamu ajak bicara tiga empat hostess, datangi kostnya atau rumahnya, ajak ngobrol, pancing emosinya. Bakal keluar semua, tuh, drama hidupnya, “ katanya. “Wawancarai tiga, empat hostess bisa jadi satu novel, “ begitu tips dari Motingggo Busye.

“Nggak ada ceritanya, perempuan bercita cita jadi hostess. Semua datang karena kepepet, karena kesasar, karena ada drama sebelumnya, “ ungkapnya.

Dari tangan Motinggo Busye, salahsatu novel yang terkenal adalah ‘Hostes Anita’. Masa itu, ada novel laris juga, judulnya ‘Gaun Hitam Seorang Janda’, dan sederet judul, yang mengungkap kehidupan klub malam ibukota umumnya, mengumbar drama, kegagalan cinta, rumah tangga, erotisme, kehidupan hostes, dan kehidupan malam.

Saya teringat novel karya sastrawati kondang NH Dini, yang menulis karya sastra ‘Namaku Hiroko’, dimana dalam satu sesi ceramah di TIM, penulisnya itu menyatakan bahwa Hiroko adalah cerita lima orang yang digabungkan menjadi satu sosok.

Kiat yang diajarkan Oom Motinggo Busye ternyata benar.

BELUM LAMA berselang, dalam satu obrolan asyik di ‘Kedai Tjikini’ dengan wartawan senior yang kini jadi dosen jurnalistik di Universitas Indonesia (UI) di Depok, saya ceritakan proses kewartawanan saya. Sebelumnya dia mengira saya alumni ISIIP dan Ilmu Sosial universitas lain.

Saya katakan, semua ketrampilan jurnalistik saya capai secara otodidak dan “matang” di ‘Mabes’. Bagi saya, Mangga Besar adalah kampus saya – saya alumni “Mangga Besar Journalism Institute”, sembari memaparkan cerita di atas.

Dia kaget, lalu bilang :”Bagus ceritanya, Dimas. Posting di FB ya..? “ pintanya.

”Sah, ya?” tanya saya ragu.

“Sah itu! ” jawabnya.

Atas pengesahan dan restu Pak Dosen, saya posting cerita di atas. Saya anggap restu Pak Dosen bikin cerita saya ini sahih. ***

sumber: status FB Dimas Supriyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *