NGOBROL NGALOR-NGIDUL#1 – KKN Desa Penari feat. Unboxing Box Set Tapak Jejak Fiersa Besari

Posted on


Ngobrol Ngalor-Ngidul adalah sebuah konten yang akan terus direkam, diedit, dan diunggah dengan menggunakan handphone. Di sini kita akan berbincang tentang apa saja, dengan siapa saja, dan bertempat di mana saja.

Kali ini, kita akan unboxing sebuah paket box set Tapak Jejak—buku karya Fiersa Besari. Buku ini telah rilis tanggal 17 Agustus 2019 kemarin. Mari kita lihat apa saja isi dari Boxset tersebut

Di dalam video ini:
Tegar A. Rachmadika
Instagram: https://www.instagram.com/tegarachmadika

Rendi Tri Wibowo
Instagram: https://www.instagram.com/renditriw

Wildan Choir
Instagram: https://www.instagram.com/wildan8choir

Terima kasih kepada:
Buku Akik
Instagram: https://www.instagram.com/bukuakik

Media Kita
Instagram: https://www.instagram.com/mediakita

Dukung terus karya Fiersa Besari (Instagram: https://www.instagram.com/fiersabesari)

sumber video dari youtube
sumber video

Cerita horor KKN di Desa Penari masih menjadi perbincangan hangat di publik Indonesia.
Banyak teka-teki yang masih menjadi pertanyaan, termasuk sejumlah lokasi yang disebut-sebut menjadi latar cerita KKN di Desa Penari.

Satu di antara lokasi yang menjadi teka-teki yaitu Rawa Bayu di Kentangan, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Melansir sebuah unggahan di kanal YouTube Bajidot Vlog yang berjudul Penelusuran Desa Penari/KKN Desa Penari hingga klarifikasi Kepala Desa, 4 orang Youtuber menelusuri lokasi Rawa Bayu.
Mereka adalah Riza, Isti, Rizal dan Vika.
Berikut hasil penelusuran yang dilakukan oleh 4 warga Desa Srono, Banyuwangi ini.
1. Rawa Bayu
Rawa Bayu merupakan sebuah lokasi wisata berbentuk danau.
Bukan sembarang danau, kabarnya Rawa Bayu dilarang digunakan untuk mandi lantaran memiliki dasar tanah yang unik.
Baca: Foto-foto Telaga Rowo Bayu Banyuwangi yang Dikaitkan Kisah KKN Desa Penari

Dasar Rawa Bayu dikabarkan berjenis lumpur, sehingga jika seseorang tenggelam di dalamnya akan sulit untuk kembali ke permukaan.
“Jadi di sini kita ga boleh mengitari rawa ini dengan bolak balik, jadi harus muter sekali saja” kata Riza dalam tayangan YouTube-nya.
Selain itu, ada peringatan dilarang mengambil ikan.
Peringatan Dilarang Mancing Ikan
Peringatan Dilarang Mancing Ikan (YouTube BAJIDOT VLOG)
“Mitosnya ada kepala ular, jika ada yang mancing lalu kecemplung ke situ ada kemungkinan orang itu akan meninggal,” ujar Riza saat dihubungi Tribunnews.
Tampak Rawa Bayu dikelilingi oleh hutan pinus yang masih lebat.
Rombongan yang tersebut lantas melanjutkan perjalanan ke lokasi selanjutnya.
Baca: Dua Mahasiswa Unmul Diduga Mesum Saat KKN, Ini Sanksinya

Baca: Penasaran Lokasi Cerita KKN di Desa Penari? Petunjuknya Mengarah ke Satu Desa di Bondowoso

2. Sumber Kamulyan
Selanjutnya, rombongan menuju ke Sumber Kamulyan.
Kepala Desa Bayu, Sugito, menjelaskan Sumber Kamulyan.
“Jadi yang dimaksud Sumber Kamulyan, orang-orang yang datang kesini ingin hidupnya mulia.”
“Orang yang jauh-jauh datang k esini pasti bawa air kamulyan ini, makanya disebut Sumber Kamulyan,” tutur Sugito.
Penuturan Pak Sugito
Penuturan Pak Sugito (YouTube BAJIDOT VLOG)
3. Petilasan Prabu Tawang Alun
Dalam penelusurannya, Riza bertemu dengan juru kunci Petilasan Prabu Tawang Alun yang bernama Saji.
“Situs Pertapaan Prabu Tawang Alun yang boleh masuk bukan hanya satu aliran agama, Kristen, Budha, Hindu, Katolik, Islam semuanya boleh,” kata Pak Saji.
Lalu persyaratannya bawa apa saja?
“Persyaratannya bawa bunga, bawa dupa, bawa kemenyan, jika tidak membawa tidak apa-apa, yang penting di dalam kita berdoa.”
“Kita memohon menurut keyakinan agamanya masing-masing,” tambah Saji.
Pak Suji, Juru Kunci Petilasan Prabu Tawang Alun
Pak Suji, Juru Kunci Petilasan Prabu Tawang Alun (YouTube BAJIDOT VLOG)
Saat menuju lokasi tersebut, terdapat sejumlah pohon yang diselimuti kain bermotif kotak-kotak berwarna hitam putih.
Untuk masuk Petilasan Prabu Tawang Alun disebut tak ada pantangannya.
“Yang penting gini, kita masuk tujuannya baik tujuannya benar, tujuannya suci,” tambahnya.
“Orang-orang yang datang di situs pertapaan Tawang Alun ini bukan hanya satu daerah.”
“Ada orang dari luar daerah Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Banyuwangi bahkan Prancis,” ungkap Saji.
4. Rawa Bayu Bukan Lokasi KKN Desa Penari
Pada saat memasuki kawasan Rawa Bayu, awalnya terasa horor ditambah adanya cerita KKN di Desa Penari yang viral.
Nmaun, di Rawa Bayu, banyak sekali sejarah yang patut dilestarikan dan pelajari terutama kerajaan sebelum terbentuknya Banyuwangi.
Pada kesimpulannya, Riza mengatakan, lokasi cerita KKN di Desa Penari bukan di Rawa Bayu.
“Oke temen-temen berdasarkan penelusuran ini dan hasilnya bukan di Rawa Bayu untuk kejadian-kejadian KKN di Desa Penari.”
“Justru banyak sekali sejarah Banyuwangi di sini.”
“Jadi temen-teman akan bisa lebih mendapatkan informasi sejarah Banyuwangi pada khususnya, apalagi sejarah kerajaan kuno,” ungkap Riza.
Tak hanya itu, Riza pun bisa mengambil kesimpulan, Rowo Bayu bukan lokasi KKN Desa Penari.
Hal ini berdasarkan penuturan Riza saat dihubungi Tribunnews.
“Sebenarnya kan rRawa Bayu dari zaman dulu memang tempat wisata.”
“Kalau pelaksanaan KKN tahun 2009, berarti masih baru banget.”
“Rawa bayu sudah jadi tempat wisata, bahkan untuk masuk Rawa Bayu sudah dikenakan tarif Rp 10 ribu untuk dua orang, ” ujar Riza saat dihubungi Tribunnews pada Selasa (3/9/2019).
Baca: Analisa Lokasi Cerita KKN di Desa Penari Mengarah ke Sebuah Desa di Bondowoso, Ini Penampakannya

Baca: Kisah Horor Viral KKN di Desa Penari Akan Diangkat Menjadi Novel, Terbit Akhir September 2019

Baca: Kurang Update Karena Belum Baca KKN Desa Penari? Jangan Khawatir, Mungkin IQ Anda Tinggi

5. Klarifikasi Kepala Desa Bayu
Kepala Desa Bayu, Sugito menjelaskan, tidak pernah ada mahasiswa KKN dari Surabaya ke desanya.
“Saya asli kelahiran sini, mulai tahun 2005 saya menjabat sebagai kepala dusun di desa in.
“Tahun 2010 jadi kepala desa sampai 2 periode belum pernah ada anak KKN dari Surabaya,” cerita Sugito.
“Itu mungkin di wilayah lain atau cuman berita hoax,”celetuk Riza.
Menurut Sugito, Telaga Rowo Bayu merupakan lokasi sakral masyarakat Banyuwangi saat zaman penjajahan.
Sugito yakin wilayah tersebut tidak pernah dijadikan tempat KKN pada akhir 2009, yang kisah mistisnya tengah ramai diperbincangkan.
Sugito juga mengaku resah dengan adanya cerita horor tersebut.
Bahkan dirinya sempat berkeliling untuk memastikan, desanya bukanlah lokasi atau latar dari cerita KKN di Desa Penari yang viral media sosial itu.
Riza dan Pak Sugito
Riza dan Pak Sugito (YouTube BAJIDOT VLOG)
Di akhir videonya, Riza sempat menuliskan beberapa imbauan tentang adanya cerita KKN di Desa Penari.
“Karena cerita tersebut mencatut foto-foto yang mengarah ke situs di Rawa Bayu, sehingga menyebabkan banyak orang beranggapan Desa Penari adalah lokasi KKN Desa Penari.
Hal ini dikarenakan Rawa Bayu memang banyak kecocokan isi cerita Desa Penari.
Akan tetapi penduduk setempat tidak membenarkan berita desa Penari.
Ada kemungkinan cerita itu cuma hoax atau sebenarnya desa lain yang mencatut foto-foto situs di rawa Bayu.
Diharapkan agar pengguna media sosial tidak membuat cerita atau berita yang mencatut foto orang atau tempat yang nantinya akan merugikan pihak lain,” tulis Riza.
Tonton vidoe Riza Azizie disini

Cerita Lengkap KKN di Desa Penari
Kisah horor yang dibagikan pengguna akun Twitter SimpleMan menjadi perbincangan publik.
Meski akun SimpleMan kerap menuliskan kisah horor yang dia miliki, tapi satu cerita horor kali ini menyeret perhatian khayalak publik lebih besar.
Kisah “KKN di Desa Penari” menarik perhatian publik setelah cerita tersebut berakhir kematian dua mahasiswa yang terlibat.
Baca: Populer Cerita Horor KKN di Desa Penari, Foto Bima yang Tewas hingga Reaksi Sang Penulis

Baca: Cerita Horor KKN di Desa Penari, Benarkah Ini Foto Bima yang Tewas? Sang Penulis Langsung Bereaksi

Baca: Viral Kisah KKN di Desa Penari Sempat Diragukan, Begini Tanggapan Penerbit Novel

Bukan hanya itu, cuitan yang ditulis selama 11 hari itu juga menunjukkan teka-teki daerah yang ada di Pulau Jawa.
Akun tersebut menjelaskan kejadian yang dituliskannya berdasarkan kisah nyata mahasiswa KKN di sebuah desa terpencil yang disebutnya Desa Penari.
Penulis menyebutkan meski berdasarkan kisah nyata, tapi ia tak mau menyebut lokasi dimana kejadian tersebut.
Begitu juga nama-nama mahasiswa KKN yang disamarkannya.
Diceritakan ada enam mahasiswa yang berasal dari sebuah perguruan tinggi di Kota S melakukan KKN di sebuah daerah terpencil yang berada di kawasan timur Provinsi Jawa Timur di akhir tahun 2009.
Dialog dalam cerita tersebut yakni Bahasa Jawa selain itu penulis juga menyertakan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.
Enam mahasiswa angkatan 2005/2006 tersebut yakni Widya, Nur, Ayu, Bima, Wahyu, dan Anton.
Kota S diyakini oleh netizen yakni adalah Surabaya.
Simpang siur akan informasi lokasi yang beredar di linimasa, akun SimpleMan kemudian memberikan konfirmasi terkait cerita KKN di Desa Penari pada 26 Agustus 2019 lalu.
Singkatnya, akun SimpleMan menjelaskan jika cerita tersebut adalah cerita dari teman ibunya.
Setelah dibahas, SimpleMan membungkus cerita tersebut menjadi narasi yang panjang dan nyaman untuk dibaca.
SimpleMan juga menegaskan jika dirinya merasa bersalah telah membahas atau membuat teka-teki lokasi Desa Penari tersebut.
Akun SimpleMan berharap jika rahasia dan teka-teki dalam cerita biarlah menjadi rahasia.
Bahkan foto yang sempat dia unggah bukan berarti foto lokasi sebenarnya.
Cerita KKN di Desa Penari dibagi menjadi dua cerita, versi Widya dan versi Nur.
Baca: Lokasi Cerita KKN di Desa Penari Berdasar Petunjuk SimpleMan, Mengarah ke Satu Desa di Bondowoso

Baca: KKN di Desa Penari, Pentingnya Menghormati Aturan Suatu Tempat

Konfirmasi Penulis
Berikut bunyi konfirmasi lengkap dari penulis kisah KKN di Desa Penari, SimpleMan:
Sepertinya. Akhir-akhir ini ada yg viral ya?
Ya sudahlah, sebenarnya saya tidak mau menulis ini, tapi sepertinya harus ya, biar apa yg sebelumnya saya bagi ini tidak disalahgunakan oleh orang tidak bertanggung jawab.
sekaligus unek-unek saya saja, selama mengamati apa yg viral itu, bila memang ada hubungannya dengan tulisan saya.
Sebelumnya saya meminta maaf pada semua yg membaca tulisan ini, bila mungkin ada yg tersinggung atau tidak suka, yg saya bicarakan adalah cerita KKN di desa penari, yg rupannya, banyak menarik perhatian banyak sekali orang.
Pertama,
saya menulis ini berdasarkan pengalaman orang, melabelinnya dengan tulisan “Kisah nyata” yg sekarang menjadi perdebadan banyak orang. Oke, saya jelaskan satu-satu ya.
cerita ini adalah cerita teman ibu saya, yg kebetulan saya curi dengar saat sdg bicara sama ibu, kemudian, saya tertarik dan lanjut ke obrolan, apakah beliau bersedia menceritakannya kepada saya, tanpa menjelaskan apa boleh cerita ini saya tulis terlebih dulu.
meski awalnya beliau keberatan, setelah saya bujuk akhirnya beliau mau.
setelah itu beliau mulai cerita.
lalu saya utarakan, apakah ini boleh atau tidak saya publikasikan dalam bentuk narasi cerita tanpa mengurangi pengalaman beliau, semacam menceritakan ulang semua kejadian.
syukurlah, beliau mau, jadi bila ada yg mengatakan ini fiktif atau fiksi, saya gak akan marah, karena dalam penceritaan ulang ini, saya merubah banyak elemen, seperti, dalam pelaksanaan KKN ini seharusnya ada 14 orang, dimana 6 diantaranya adalah perempuan dan sisanya adalah laki
lalu, prosedur pelaksanaan KKN, kenapa seakan kok ngaco, well, saya sempat mempertanyakan ini, jawaban beliau, simple, KKN ini adalah KKN profesi. sampai disini, saya tidak tanya-tanya lagi.
Kedua, saat cerita ini pertama kali saya posting, saya menulis banyak sekali informasi tempat pelaksanaan, meski hal itu sudah saya sensor sedemikian rupa dan tentu saja ada beberapa bagian yg sengaja saya buat salah, meskipun saya tahu, akan banyak sekali orang yg penasaran.
orang2 mulai menjadi detektif dadakan, oke, ini kesalahan saya yg mungkin sangat fatal, dimana saya salah menanggapi narasumber, bahwa kesemuanya bila perlu, disamarkan saja, atau tidak usah ditulis untuk menghindari hal-hal yg tidak diinginkan.
malah, awalnya narasumber berpesan, cerita ini tidak usah dipublikasikan saja, dan untuk pembelajaran pribadi, semacam pengingat bahwa dimanapun saya berada, tolong, junjung tinggi tata krama, tapi, saya ngeyel, saya berpikir, pesan beliau ini kenapa tidak disampaikan ke khalayak
karena toh ada pelajaran yg bisa diambil dari cerita ini. itu, yg membuat saya tetap nekat meminta ijin agar cerita ini tetap diterbitkan tanpa keinginan cerita ini akan menjadi viral. serius, saya gak mikir ini sebelumnya.
disini, saya banyak sekali membaca komentar yg merujuk pada lokasi, mohon maaf, saya sudah susah mencoba membuat semuanya samar, kemudian tetap saja dipublikasikan rujukan tempatnya, ya sudah, saya yg salah juga, saya lupa, bila semua sudah dilemparkan ke ranah publik-
maka sudah bukan menjadi hak milik saya lagi, sudah banyak ratusan atau ribuan kepala yg akan mencoba memecahkan rujukan tempat ini, dari sekian komentar, ada yg ngawur, ada yg asal ngomong, ada yg mendekati dan bahkan, ada yg benar-benar tepat lokasinya.
tetapi, saya tidak akan mengatakan ini lebih jauh atau membongkar tempatnya. jadi buat yg mungkin merasa sudah tahu, sudah, diam saja ya, kita bisa saling menghormati kan seperti saya menghormati warga desa disana yg saya yakin, semuanya orang baik.
foto ini adalah foto rowo bayu yang sebenarnya bukan tempat yg saya ceritakan. bukan.
foto ini saya ambil dari google atas saran narasumber yg ingin menggambarkan Petilasan yg beliau ceritakan yg menyerupai rowo bayu ini, karena narsum pernah juga ketempat ini.
Terakhir, saya sudah baca banyak sekali beragam komentar dan argument tentang cerita ini di luar platform twitter, aduh, saya tidak menyangka sebelumnya bila ini malah jadi ajang buat berantem demi argument masing-masing, saya jadi merasa tidak enak.
cerita yang awalnya saya tulis agar bisa mendapat kandungan pelajaran didalamnya malah jadi ajang debad dan baku hantam di komentar.
saya buat akun ini awalnya untuk menceritakan pengalaman-pengalaman saya yang bersinggungan dengan hal-hal yg diluar nalar saat masih kecil, kemudian, lanjut, dengan menceritakan pengalaman teman-teman dekat sampai orang yg saya kenal. semua itu, murni hanya untuk berbagi.
namun, bila disalah artikan seperti ini, saya jadi ikut merasa sedih. mungkin saya yg kurang bisa menyampaikan poin kandungan ceritanya, jadi tolong dimaafkan ya.
jadi akan saya tegaskan lagi, untuk siapapun yg membaca ini, semua yg saya tulis disini, yg bukan berasal dari pengalaman saya, adalah penceritaan ulang agar pembaca bisa menikmati dan tahu apa yg beliau alami, dari, apa yg saya dengar saat narsum bercerita.
kemudian bila ini dikatakan fiktif atau semacamnya, saya lebih suka seperti itu dan mungkin lebih baik seperti itu saja, biar saya bisa lebih bebas dalam menulis wes, gitu saja. Hehe.
Untuk yg membagi-bagikan cerita ini diluar platform twitter, saya tidak marah, sebaliknya, saya justru seneng, berterimakasih malah, karena pesan yg saya coba sampaikan lewat cerita ini bisa sampai, dibaca dan dilihat lebih banyak orang.
toh alasan pertama saya angkat cerita ini karena ada hikmah yg bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Ya kan,
Urusan percaya dan tidak percaya, semua kembali kepada yg membaca, karena saya gak bisa memakasakan kehendak semua orang kan.
Untuk yg menyebarkan foto ngawur diluar sana, tolonglah, jangan!! toh foto yg kalian sebar tidak ada hubungannya sama cerita ini, saya benar-benar merasa tidak enak, dimana kalau saya ketemu beliau jadi tidak nyaman. Mohon kebijaksanaannya ya kawan-kawan semua.
Segitu saja sih unek-unek saya hari ini, dan saya akan tetap menulis cerita dari pengalaman orang yg mau berbagi cerita dengan gaya penceritaan ulang yg saya buat, urusan mau diterima atau tidak, saya kembalikan saja kepada pembaca. gitu saja ya.
toh. Yg baca juga pastinya bisa menilai, bahwa keseluruhan cerita saya ada yg mungkin ditambahi atau dikurangi, untuk satu tujuan, HIBURAN. Ya, sebatas hiburan saja, jadi kalau ada yg berdebad karena hiburan ya, saya, no comment.
Sudah ya debadnya, yok lanjot kerja saja,
Seperti prinsip pertama saat buat akun ini, tertulis jelas di bio saya, “Life is simple, stop making it complicated”
Nanti, ayuk lah lanjut ceritanya, sudah terlalu lama saya menyibukkan diri kayanya. hehe

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Menelusuri Desa yang Diduga Lokasi KKN Desa Penari, Begini Suasananya hingga Klarifikasi Kepala Desa, https://www.tribunnews.com/regional/2019/09/03/menelusuri-desa-yang-diduga-lokasi-kkn-desa-penari-begini-suasananya-hingga-klarifikasi-kepala-desa?page=all.
Penulis: Sinatrya Tyas Puspita
Editor: sri juliati

Sebelumnya telah ditulis di satu.web.id

Tiga hutan yang berada di Jawa Timur ini disebut-sebut merupakan lokasi paling identik setting cerita Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Penari yang tengah viral di media sosial (medsos) utamanya Twitter.
Tiga hutan yang terletak di Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso daerah paling timur Pulau Jawa ini memang terkenal seram dan angker.
Di manakah lokasi hutan yang identik dengan cerita KKN di Desa Penari itu?
Teka-teki di mana lokasi cerita horor KKN di Desa Penari yang tengah viral di media sosial jadi perbincangan hangat netizen.

Cerita horor KKN di Desa Penari viral setelah dibagikan oleh akun Twitter @SimpleM81378523 secara berseri.

Baca: VIRAL Kisah KKN di Desa Penari: Hutan Inikah yang Dimaksud dalam Cerita Itu?

Baca: MENGUNGKAP Misteri Kisah Horor KKN di Desa Penari, Deretan Fakta: Lokasi Persis Desa Penari

Baca: Fakta-fakta Cerita Nyata KKN di Desa Penari, 2 Mahasiswa Tewas dan Jadi Bahasan Raditya Dika

Pengguna akun Twitter bernama SimpleMan itu menulis cuitan cerita berseri sejak 24 Juni-27 Juli 2019.
Akun tersebut menjelaskan kejadian yang dituliskannya berdasarkan kisah nyata mahasiswa KKN di sebuah desa terpencil yang disebutnya Desa Penari.
Penulis menyebutkan meski berdasarkan kisah nyata namun ia tak mau menyebut lokasi dimana kejadian tersebut.
Begitu juga nama-nama mahasiswa KKN yang disamarkannya.
Diceritakan ada 6 mahasiswa yang berasal dari sebuah perguruan tinggi di Kota S melakukan KKN di sebuah daerah terpencil yang berada di kawasan timur Provinsi Jawa Timur di akhir tahun 2009.
Dialog dalam cerita tersebut yakni Bahasa Jawa selain itu penulis juga menyertakan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.
Enam mahasiswa angkatan 2005/2006 tersebut yakni Widya, Nur, Ayu, Bima, Wahyu dan Anton.
Kota S diyakini oleh netizen yakni adalah Surabaya.
Ini berdasarkan perbincangan antara yang sempat menyebutkan satu diantara kosakata yang terkenal di Jawa Timur, “Cuk. sepedaan tah”.
Kata ‘Cuk’ memang lazim digunakan oleh orang-orang di Surabaya yang awalnya makian, tapi berubah makna menjadi ‘sapaan akrab’ sesama teman.
Sementara untuk lokasi kabupaten tempat KKN banyak yang berdebat antara Bondowoso ataukah Banyuwangi.
Kenapa Bondowoso atau Banyuwangi?
Ini berdasarkan percakapan antara Widya dan Ayu.
“Nang kota B, gok deso kabupaten K***li** , akeh proker, tak jamin, nggone cocok gawe KKN” (di kota B, di sebuah desa di kabupaten K*******, banyak proker untuk dikerjakan, tempatnya cocok untuk KKN kita).
Penulis juga menyebutkan desa tempat KKN tersebut dengan inisial W, “sampailah mereka di Desa W****, tempat mereka akan mengabdikan diri selama 6 minggu ke depan”
Lokasi tempat KKN tersebut menurut penulis juga letaknya tak jauh dari sebuah hutan atau alas berinisial D.
“Mobil berhenti di jalur masuk hutan D, menempuh perjalanan 4 sampai 5 jam dari kota S”
Hutan D banyak yang menduga itu merupakan hutan Dadapan yang letaknya berada di Kabupaten Bondowoso.
Viralnya cerita KKN di Desa Penari membuat netizen bersepekulasi dimana lokasi-lokasi tersebut.
Akun Facebook Eko Bambang Visianto satu di antara yang menyebutkan analisinya:
Kunci pertama adalah, harus disepakati bahwa “kisah nyata” tersebut terjadi di Jawa Timur yang dikuatkan dengan penggunaan kata “REK’ atau “AREK” sejak cerita dimulai. No debate for this.
Kunci kedua adalah, para mahasiswa KKN itu adalah dari kampus di kota S yang sudah bisa dipastikan adalah Kota Surabaya. Salah satu petunjuk adalah cuplikan kisah versi Widya (bagian 1) sebagai berikut:
“Cuk. sepedaan tah” kata Wahyu, spontan. Saat itu ada yang aneh entah disengaja atau tidak, ucapan yang dianggap biasa di kota S, di tanggapi lain oleh lelaki-lelaki itu, wajahnya tampak tidak suka, dan sinis tajam melihat Wahyu.
Sudah pada tau kan kalo yang biasa bilang “cak-cuk-cak-cuk” semacam itu adalah para Bonek. Ya memang sih, Arema juga suka gitu. Tapi kan kota mereka berawalan huruf M, bukan S.
Kunci keempat adalah KKN dilaksanakan di Kota B dan ada 2 kota yang namanya berawalan huruf B di atas yaitu Bondowoso dan Banyuwangi.
Dari sini nama Bondowoso harus dicoret karena nggak cocok dari keseluruhan cerita di bagian 1 maupun bagian 2.
Alasannya?
Ada dijelaskan dalam cerita tersebut bahwa untuk menuju kota B harus melalui kota J yang sudah dipastikan itu adalah Kota Jember dan itu nggak wajar.
Karena ngapain jauh-jauh muter ke selatan untuk menuju Bondowoso dari Surabaya.
Lagipula, Bondowoso sebagaimana kabupaten Tapal Kuda lain di wilayah pesisir utara, tidak akrab dengan tradisi “penari” atau tari-tarian seperti yang digambarkan dalam keseluruhan cerita.
Itu ada kaitannya dengan kultur etnisitas wilayah-wilayah tersebut yang cenderung Madura sentris.
Berbeda dengan wilayah selatan yang konon berasal dari keturunan Majapahit yang lari menuju Bali setelah kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa itu runtuh.
Sejak dari Tengger, Lumajang, Puger sampai Banyuwangi selatan, masih banyak tradisi dan pemeluk agama Hindu (pura tertua di Indonesia berada di kecamatan Senduro Lumajang).
Apa boleh buat, sejak awal Madura memang “sudah Islam” sehingga tidak akrab dengan ritual-ritual semacam sesajen atau menutupi obyek-obyek yang dianggap magis dengan kain berwarna-warni tertentu sebagaimana banyak bertebaran dalam cerita KKN di Desa Penari tersebut.
Kota B adalah Banyuwangi semakin diperkuat oleh kekhawatiran ibu Widya setelah mengetahui bahwa putrinya itu akan melangsungkan KKN di sana.
Well… meskipun Banyuwangi sekarang adalah kota yang luar biasa pesat kemajuannya dan terkenal oleh pariwisatanya yang mulai mendunia, tapi dulu siapa yang tak kenal dengan kota paling ujung timur pulau Jawa itu dalam hal reputasi dunia magisnya.
Kata SANTET akan selalu dikaitkan dengan Banyuwangi, belum termasuk segala macam ajian pengasihan dan lain-lain, hingga dulu ada pameo, “hati-hati sama orang Banyuwangi”
Jadi, Banyuwangi sudah dipastikan untuk dikunci petunjuk yang keempat.
Jika tak percaya, coba ketik keyword “DESA PENARI” di Google dan dari 152.000 entry akan langsung mengarahkan pada Kabupaten Banyuwangi dan ajaibnya, di daftar 20 pertama akan mengarahkan pencari pada TARI SEBLANG…
salah satu tarian paling kuno dan mistis di kabupaten itu dimana para penarinya dalam keadaan trance alias tidak sadar dan bisa menari selama berjam-jam hingga berhari-hari nonstop.
Dan berikut ini adalah tiga hutan yang kemungkinan tempat peristiwa tersebut terjadi.
1. Alas Purwo
Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) berlokasi di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Alas Purwo juga merupakan wilayah Taman Nasional Alas Purwo yakni taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia
Hutan ini berada di ujung timur Pulau Jawa, luasnya 43.420 Ha.
Banyak yang menyebut, Alas Purwo konon merupakan kerajaan jin, tempat di mana semua makhluk halus berkumpul.
Beberapa situs menuliskan, jika sekali tersesat di dalamnya, maka dijamin tidak akan pernah bisa keluar lagi.
Kalau pun berhasil, maka hidupnya akan penuh sial.
Menariknya, Alas Purwo juga pernah dikaitkan dengan nama Presiden Sukarno.
Soekarno disebut-sebut pernah menghabiskan waktunya untuk bersemedi di sebuah gua di sana.
Namun, kabar ini tak pernah terverifikasi.
2. Alas Gumitir
Gunung Gumitir merupakan sebuah gunung di perbatasan Kabupaten Jember dengan Kabupaten Banyuwangi.
Lokasinya di Kecamatan Silo dan Kecamatan Kalibaru.
Wikipedia menuliskan gunung ini terkadang juga disebut dengan nama Gunung Mrawan.
Ada catatan, sejak zaman dulu, jalan raya di Gunung Gumitir telah menjadi jalur penghubung terpendek antara Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi.
Gunung Gumitir dipilih sebagai jalur penghubung, karena memiliki ketinggian paling rendah di antara deretan pegunungan yang lain, dari Gunung Raung (utara) hingga Gunung Kidul (selatan).
Asal mula kata Gumitir, gemitir, kumitir, atau kemitir merupakan nama tanaman Tagetes erecta yang memiliki bunga berwarna kekuningan.
Di Bali, bunga gumitir banyak digunakan untuk membuat sesajen (canang sari).
Dalam kepercayaan Jawa kuno, alang-alang kumitir merupakan nama kahyangan dari Sang Hyang Wenang.
Legenda yang beredar di masyarakat Banyuwangi, nama gumitir berasal dari kisah Damar Wulan.
Setelah Damar Wulan berhasil membunuh dan memenggal kepala Menak Jinggo, ia bertemu Layang Seta dan Layang Kumitir, putra kembar patih Logender, di tengah jalan.
Keduanya berhasil menipu Damar Wulan dan merampas kepala Menak Jinggo.
Gunung tempat keduanya menipu Damar Wulan akhirnya dikenal dengan nama Gunung Kumitir atau Gunung Gumitir.
Menariknya, pada masa penjajahan Jepang, serdadu Dai Nippon membangun sebuah gua untuk mengawasi jalur kereta api yang melintasi Gunung Gumitir.
Gua Jepang tersebut terletak sekitar 100 meter dari Watu Gudang, terbuat dari beton tebal dengan ukuran sekitar 6 m × 8 m.
3. Alas Dadapan
Masih menurut catatan di wikipedia, wilayah Desa Dadapan didominasi lahan pertanian.
Di dekat perkampungan, bagian barat jalan raya, terdapat gudang-gudang bekas pabrik yang tidak berfungsi menyusul dinonaktifkannya Jalur Kereta Api Kabat-Banyuwangi Lama.
Di wilayah bekas rel ini juga masih terdapat bangunan Stasiun Dadapan yang kini beralih fungsi menjadi rumah warga.
Perkampungan warga Desa Dadapan terletak pada susunan gang-gang kecil yang terhubung satu sama lain.
Namun selain itu, terdapat satu jalan yang cukup besar yang digunakan untuk menuju ke Desa Pondoknongko dan Desa Sukojati.
Selain itu, di perbatasan menjelang Desa Kedayunan terdapat banyak perumahan dan sebuah rest area bernama Istana Gandrung.
Fakta-fakta KKN di Desa Penari yang Viral
1. Akun Anonim
Penulis cerita ‘KKN di Desa Penari’ merupakan anonim dengan nama ‘SimpleMan’.
Cerita itu pun sudah mendapat retweet hingga 11 ribu kali.
2. Kejadian Tahun 2009
Dalam cerita disebutkan, peristiwa horor ‘KKN di Desa Penari’ terjadi pada 2009.
Kala itu, Widya tengah menyelesaikan satu syarat untuk skripsi, yakni KKN.
3. Diikuti 14 Orang
Awalnya cerita menyebutkan, yang mengikuti KKN di Desa Penari berjumlah 6 orang.
Namun kemudian penulis meralat jumlah menjadi 14 orang karena ingin memfokuskan pada cerita.
4. Ada 6 Orang yang Terlibat
Dari 14 orang yang mengikuti KKN di Desa Penari, penulis memfokuskan cerita pada 6 orang.
Pasalnya, keenam orang tersebut saling terlibat, yaitu Widya, Nur, Ayu, Wahyu, Bima, dan Anton.
5. Dua Versi Tulisan
Sang penulis cerita KKN di Desa Penari membagikan dua versi cerita.
Pertama berdasarkan sudut pandang Widya dan kedua oleh Nur.
6. Ditulis Selama 11 Hari
Kisah ‘KKN di Desa Penari’ ditulis selama 11 hari, yakni sejak 24 Juni 2019 hingga 5 Juli 2019 untuk versi sudut pandang Widya.
Sementara untuk sudut pandang Nur ditulis selama 5 hari, mulai 20 Juli hingga 25 Juli.
7. Lokasi
Banyak netizen yang berspekulasi mengenai lokasi KKN di Desa Penari itu di mana.
Sementara penulis hanya memberikan petunjuk dengan nama kota ‘B’ di bagian Jawa Timur.
8. Sang Penari
KKN di Desa Penari menceritakan Widya yang diikuti oleh seorang penunggu desa.
Belakangan diketahui, penunggu yang dimaksud adalah seorang penari.
9. Dua Orang Tewas
Penulis menceritakan, Ayu dan Bima tewas setelah menjalani KKN di Desa Penari.
Pasalnya, mereka berdua melanggar aturan untuk tak melewati batas yang ditentukan.
10. Pesan Moral
Akhir cerita dari KKN di Desa Penari memberikan pesan moral kepada masyarakat untuk harus menjaga tata krama di mana pun berada serta untuk saling menghargai dan menjaga satu sama lain.
11. Dibahas Raditya Dika
Cerita ‘KKN di Desa Penari’ juga ikut dibahas oleh YouTuber Raditya Dika.
Bahkan tayangan tersebut sudah ditonton oleh lebih dari 2 juta orang. (*)
Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul VIRAL Kisah KKN Horor di Desa Penari yang Diduga di Banyuwangi, 2 Mahasiswa Surabaya Tewas,

4 thoughts on “NGOBROL NGALOR-NGIDUL#1 – KKN Desa Penari feat. Unboxing Box Set Tapak Jejak Fiersa Besari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *