NH.Dini
NH.Dini

NH.Dini

Posted on

KENANGAN NH DINI – Dunia sastra Indonesia kehilangan salahsatu sastrawati yang sangat penting, Nh Dini. Beliau meninggal di usia 82 tahun. Akibat kecelakaan mobil, demikian sejumlah media online memberitakan.

Saya mengenal karya Nh Dini sejak klas 3 SMP, di tahun 1976. Saat itu saya anggota Perpustakaan Jakarta di Jl. Tanah Abang 1 – Jakarta Pusat. Saya baru setahun di Jakarta, termanjakan oleh buku buku perpustakaan yang begitu banyak.

Di kampung, saya baca komik dari tempat sewaan. Sesekali baca novel berbahasa Jawa, pinjaman dari tetangga. Ibu saya langganan ‘Penyebar Semangat’ dan ‘Mekar Sari’, tetangga ‘Suara Karya’ dan ‘Intisari’. Saya lahap semua.

Ada banyak buku sastra serius, karya penulis penulis hebat terbitan PT Pustaka Jaya dijejerkan di Perpustakaan Jakarta Pusat itu, di antaranya karya Nh Dini.

Saya membaca ‘Pada Sebuah Kapal’, ‘Keberangkatan’, ‘Sebuah Lorong di Kotaku’ dan ‘Namaku Hiroko’. Lalu yang lainnya, kebanyakan memoar masa kecil dan remajanya. Hal yang menarik dari tulisan NH Dini dia menyuarakan hati wanita. Jika Anda ingin membaca suara hati wanita, bacalah novel Nh Dini. Begitu halus, dan begitu dalam.

Namun di sisi lain Nh Dini juga merupakan novelis yang mempelopori gaya penceritaan yang berani dan begitu detail dalam memggambarkan adegan ranjang dan perselingkuhan — gaya mana yang kemudian diikuti oleh novelis popular seperti La Rose, Titi Said, Mira W dan belakangan Ayu Utami.

Tapi nama Nh. Dini melambung berkat kemampuannya dalam menciptakan sebuah dunia baru bernama ‘dunia kenangan’. Dunia itu tentu saja hanya rekaan sang maestro yang disusun berdasarkan ingatannya atau kenangannya atas kehidupan.

Kenangan inilah yang kemudian beliau susun, ubah, dan sesuaikan untuk menghasilkan sebuah serial. Hingga saat ini Nh. Dini telah berhasil melahirkan 21 judul buku.

Meski begitu, kemampuannya menulis dan menarasikan kenangan tersebut tentu tidak mudah.

Tak sekadar menyuarakan hati wanita, melainkan juga pembrontakannya. Dia pernah menjadi pramugari dan menikah dengan diplomat Prancis, tapi kemudian bercerai.

NH Dini dilahirkan dengan nama panjang Nurhayati Srihardini Siti Nukatin dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara, ulang tahunnya dirayakan empat tahun sekali. Masa kecilnya penuh larangan. Konon ia masih berdarah Bugis, sehingga jika keras kepalanya muncul, ibunya acap berujar, “Nah, darah Bugisnya muncul”.

PADA USIA 24 tahun NH Dini menikah dengan Diplomat Perancis Yves Coffin pada tahun 1960, lalu diboyong suami. Beliau hidup di luar negeri dimana saja sang suami bertugas.

Hidup yang berpindah-pindah, dari Manila, Prancis, hingga Amerika Serikat. NH Dini yang akhirnya memilih berpisah dari suami pada Tahun 1984 dimana sebelumnya beliau sakit sejak tahun 1975.

Pernikahnnya dengan pria Prancis itu menghasilkan dua anak, yakni Marie Claire Lintang dan Piere Louis Padang yang jatuh menjadi hak perwalian suami. Nama anak NH Dini belakangan dikenal sebagai animator yang membuat film ‘Minions’. Lintang menetap di Kanada, sementara Pierre L. Padang berkarier di Prancis.

Pada 2018, Nh. Dini kembali menelurkan buku terbaru yang sekaligus disebut-sebut sebagai karya terakhirnya berjudul ‘Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya’. Acara peluncuran buku ini diadakan pada Sabtu, 10 Maret 2018, di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Dalam kesempatan itu, Nh. Dini menceritakan bahwa kemampuan menulisnya adalah sebuah kebiasaan yang diturunkan dari mendiang sang ibu. Dulu semasa kecil, Nh. Dini sering dinasihati ibunya untuk terus menulis cerita-cerita keseharian dengan detail dalam sebuah buku harian.

DINI dikenal memiliki teknik penulisan konvensional. Namun, menurutnya teknik bukan tujuan melainkan sekadar alat. Tujuannya adalah tema dan ide. Tidak heran bila kemampuan teknik penulisannya disertai dengan kekayaan dukungan tema yang sarat ide cemerlang. Dia mengaku sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya dengan teknik konvensional.

Ia mengakui bahwa produktivitasnya dalam menulis termasuk lambat. Ia mengambil contoh bukunya yang berjudul ‘Pada Sebuah Kapal’, prosesnya hampir sepuluh tahun sampai buku itu terbit padahal mengetiknya hanya sebulan. Baginya, yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat melihat atau mendengar yang unik, sebelum tidur ia tulis tulis dulu di buku catatan dengan tulis tangan.

Pengarang yang senang tanaman ini, biasanya menyiram tanaman sambil berpikir, mengolah dan menganalisis. la merangkai sebuah naskah yang sedang dikerjakannya. Pekerjaan berupa bibit-bibit tulisan itu disimpannya pada sejumlah map untuk kemudian ditulisnya bila sudah terangkai cerita.

Meski sudah dicap sebagai seorang sastrawan, Dini tetap rendah hati dengan mengaku hanya sebagai seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia pun digelari pengarang sastra feminis.

Jasa besar Nh Dini dalam karir kepenulisan saya adalah penghayatannya luar biasa dalam menggambarkan kedalaman perasaan dan dunia batin wanita Indonesia. Untuknya, saya mendoakan yang terbaik, kiranya mendapat tempat yang terbaik di sisiNya. Jasanya sangat besar bagi sastra Indonesia.***

 

source: status FB Dimas Supriyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *