Salman Luthan
Salman Luthan

Rekam Jejak Hakim MA Salman Luthan, Hakim Tegas dan Lembut Hati di Mahkamah Agung

Posted on

Dibalik putusan MA yang sangat melukai hati masyarakat dengan melepaskan Syafruddin Temenggung terdakwa kasus korupsi BLBI 4,5 trilyun, ternyata masih ada secercah harapan bahwa tak semua hakim di republik ini bobrok.

Berikut ini rekam jejak satu-satunya Hakim Agung yang menolak melepaskan terdakwa Syafruddin Temenggung dalam kasus korupsi yang merugikan negara Rp 4,5 trilyun itu.

Dalam putusan kasasinya, hakim agung, Salman Luthan, tercatat menolak dengan tegas untuk melepaskan terdakwa korupsi Syafruddin Temenggung di kasus BLBI. Namun, suara Salman akhirnya kalah dengan dua hakim anggotanya, yaitu M. Askin dan Syamsul Rakan Chaniago. Salman pun kalah voting dan terdakwa korupsi 4,5 trilyun itu pun lepas.

Siapa sebenarnya hakim Salman?

Dalam catatan, Salman sehari-harinya adalah dosen hukum pidana di UII Yogyakarta. Di kampus itu, Salman merupakan junior mantan hakim agung Artidjo Alkostar. Ia mulai memakai toga emas sejak April 2010.

Sebagai hakim agung yang khusus menangani perkara-perkara pidana, Salman kerap menangani kasus yang menarik perhatian publik.

Pada awal-awal menjadi hakim agung, Salman sudah terlihat berani berbeda pendapat dengan para hakim agung lainnya.

Kala menyidangkan kasus Prita Mulyasari yang digugat dalam perkara pencemaran nama baik oleh sebuah RS swasta misalnya, Salman memilih memvonis lepas Prita tapi harus kalah dengan dua hakim agung lainnya. Akhirnya, Prita dinyatakan bersalah. Ketika itu masyarakat juga mencoba membantu dengan mengumpulkan koin untuk membantu Prita membayar hukuman denda yang diterimanya.

Di kasus peninjauan kembali (PK) terpidana pembunuhan Munir dengan terdakwa mantan pilot Pollycarpus, Salman kembali berbeda pendapat dengan hakim agung lainnya. Salman tidak setuju untuk menurunkan hukuman Pollycarpus dari 20 tahun penjara. Namun lagi-lagi suara Salman kalah dengan suara hakim agung lainnya sehingga hukuman Pollycarpus diubah menjadi 14 tahun penjara.

Di perkara korupsi, salah satu kasus mega korupsi yang diadilinya adalah soal tukar guling lahan yang melibatkan Wali Kota Medan 2010-2015 Rahudman Harahap dan pengusaha Handoko Lie. Oleh Salman, keduanya dihukum masing-masing 10 tahun penjara dan Handoko wajib mengembalikan aset negara senilai Rp 185 miliar ke negara.

Begitu pula saat mengadili Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin pada Oktober 2016, hakim agung Salman Luthan memilih berseberangan dengan para hakim agung lainnya. Sebab, hakim agung lainnya mengkorting hukuman Ilham dari 6 tahun penjara menjadi 4 tahun penjara. Bagi Salman, Ilham sudah layak dihukum 6 tahun penjara. Tapi lagi-lagi suara hakim agung Salman Luthan kalah.

Di kasus korupsi proyek pembangunan PLTGU Belawan, palu hakim agung Salman menjatuhkan hukuman 14 tahun penjara kepada Bahalwan. Selain itu, hakim agung Salman Luthan berserta Prof Abdul Latief dan Syamsul Rakan Chaniago juga menghukum Bahalwan untuk mengembalikan kerugian negara Rp 337 miliar.

Di kasus korupsi mantan Bupati Bangkalan, Fuad Amin, palu hakim agung Salman Luthan juga diketuk keras. Fuad yang kala itu menjadi Ketua DPRD Bangkalan dihukum 13 tahun penjara. Salman bersama Krisna Harahap dan MS Lumme juga menghukum Fuad untuk mengembalikan harta yang dikorupsinya sebesar Rp 250 miliar lebih.

Tapi segalak itu kah Salman?

Ternyata tidak. Hati Salman luluh saat mengadili kasir karaoke Sri Mulyati atas tuduhan mempekerjakan anak di bawah umur. Salman beserta Prof Dr Komariah Emong Sapardjaja dan Suhadi membebaskan Sri karena kasir karaoke itu dianggap menjadi korban peradilan sesat. Sebab, Sri adalah pekerja di karaoke itu, bukan yang menggaji karyawan.

Yang terbaru adalah rekam jejak Salman di kasus BLBI Syafruddin Temenggung. Selaku ketua majelis, Salman kalah suara dengan dua anggotanya yaitu Syamsul dan Askin. Syamsul mempunyai latar belakang pengacara sedangkan Askin merupakan mantan politikus/anggota DPR.

Salman meyakini Syafruddin Temenggung bersalah karena korupsi Rp 4,5 triliun dalam perkara BLBI dan harus dihukum 15 tahun penjara sebagaimana putusan Pengadilan Tinggi Jakarta.

Namun, Salman kalah suara dalam voting dengan Syamsul dan Askin.

Alhasil, terdakwa korupsi itu pun lepas.

(Andi Saputra – detikNews)

sumber: detikcom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *